Sunday, September 26, 2010

Bersepeda Bersama Yesus

Pada awalnya, aku memandang Tuhan sebagai seorang pengamat; seorang hakim yang mencatat segala kesalahanku, sebagai bahan pertimbangan apakah aku akan dimasukkan ke surga atau dicampakkan ke dalam neraka pada saat aku mati. Dia terasa jauh sekali, seperti seorang raja. Aku tahu Dia melalui gambar-gambar-Nya, tetapi aku tidak mengenal-Nya.

Ketika aku bertemu Yesus, pandanganku berubah. Hidupku menjadi bagaikan sebuah arena balap sepeda, tetapi sepedanya adalah sepeda tandem, dan aku tahu bahwa Yesus duduk di belakang, membantu aku mengayuh pedal sepeda.

Aku tidak tahu sejak kapan Yesus mengajakku bertukar tempat, tetapi sejak itu hidupku jadi berubah. Saat aku pegang kendali, aku tahu jalannya. Terasa membosankan, tetapi lebih dapat diprediksi ? biasanya, hal itu tak berlangsung lama. Tetapi, saat Yesus kembali pegang kendali, Ia tahu jalan yang panjang dan menyenangkan. Ia membawaku mendaki gunung, juga melewati batu-batu karang yang terjal dengan kecepatan yang menegangkan. Saat-saat seperti itu, aku hanya bisa menggantungkan diriku sepenuhnya pada-Nya!

Terkadang rasanya seperti sesuatu yang 'gila', tetapi Ia berkata, "Ayo, kayuh terus pedalnya!"

Aku takut, khawatir dan bertanya, "Aku mau dibawa ke mana?" Yesus tertawa dan tak menjawab, dan aku mulai belajar percaya. Aku melupakan kehidupan yang membosankan dan memasuki suatu petualangan baru yang mencengangkan.Dan ketika aku berkata, "Aku takut!" Yesus menurunkan kecepatan, mengayuh santai sambil menggenggam tanganku.

Ia membawaku kepada orang-orang yang menyediakan hadiah-hadiah yang aku perlukan ? orang-orang itu membantu menyembuhkan aku, mereka menerimaku dan memberiku sukacita. Mereka membekaliku dengan hal-hal yang aku perlukan untuk melanjutkan perjalanan ? Perjalananku bersama Tuhanku. Lalu, kami pun kembali mengayuh sepeda kami.

Kemudian, Yesus berkata, "Berikan hadiah-hadiah itu kepada orang-orang yang membutuhkannya; jika tidak, hadiah-hadiah itu akan menjadi beban bagi kita. "Maka, aku pun melakukannya. Aku membagi-bagikan hadiah-hadiah itu kepada orang-orang yang kami jumpai, sesuai kebutuhan mereka. Aku belajar bahwa ternyata memberi adalah sesuatu yang membahagiakan.

Pada mulanya, aku tidak ingin mempercayakan hidupku sepenuhnya kepadaNya. Aku takut Ia menjadikan hidupku berantakan; tetapi Yesus tahu rahasia mengayuh sepeda. Ia tahu bagaimana menikung ditikungan tajam, Ia tahu bagaimana melompati batu karang yang tinggi, Ia tahu bagaimana terbang untuk mempercepat melewati tempat-tempat yang menakutkan. Aku belajar untuk diam sementara terus mengayuh ? menikmati pemandangan dan semilir angin sepoi-sepoi yang menerpa wajahku selama perjalanan bersama Sahabatku yang setia: Yesus Kristus.

Semoga memberkati yaa :)

Source : Bersepeda Bersama Yesus

Tuesday, September 14, 2010

They are Back!

Teeeeheeeeeeee :))
Have been waiting for sooo longggg, finally my Gossip Girl season 4 and 90210 season 3 are back :)



Imma downloading them now, can hardlyyyy waitt!! :) :)
Another one week and How I Met Your Mother is back too. Ah, so nice!

Thursday, September 02, 2010

Bersyukurlah Teman!

Haiiiiiiii!!! Maafkan saya atas absennya saya setelah sekian lama. Hahaha. Lagi merasa nganggur, gtw mo ngapain, pengen mandi tapi kamar mandinya lagi dipake, jdi ngeblog deh guee hahahaha.

Sejujurnya gtw mau nulis apaan.. cuma lagi hepi aja akhr2 ini nih, hehehe, mungkin mo sharing aja kali ya gue.. *gaya*

Jadi lately gue bener2 diajarin sesuatu yg namanya "bersyukur". Gue yakin dan percaya kalo manusia normal pasti lebih banyak ngegerutunya daripada bersyukurnya hahahaha. Mulai dari : "Gila panas banget!", "aduh cape", "makanannya asin banget yah", sampe "kok gue ga se-ini/itu dia yah", "nyokap gue rese banget!" etc, you name it. Hahaha. Gue juga sering sih memangg ngegerutu, ngedumel, ngeluh... tapi saya belajar belakangan ini, kalo ngeluh ga akan ngubah keadaan. Sebaliknya bersyukur itu bawa dampak yg jauh lebih positif.



Contoh gue yah... Pas gue pulang Indo dan nci gue ribut2 ngoceh2, daripada gue ikutan ngedumel dan ngoceh dan kita ber2 ribut (yg jelas ga enak for both of us), it's better for me to be grateful karena : 1) gue punya nci, 2) masi bisa denger nci gue ngoceh2, karena di Malay gue jelas ga bisa dngr dia hahaha. Karena itu gue bakal lebih menghargai setiap kebersamaan kita yg ada. *gaya*

Banyak hal yang bisa kita syukuri loh sbenarnya =) Count your blessings instead of your crosses. Dan kita bakal amazed sama berkat2 yg kita ada. Hal2 yg keliatan biasa juga sebenernya anugrah lohh. Walaupun kadang2 ortu kita suka bawel, tapi bersyukurlah kalo kita masih punya orang tua. Berapa banyak org yg udah ga ada ortunya di luar sana, bahkan ada yg ga tau orang tuanya sama skali. Walopun kita ga secantik Megan Fox ato seganteng Aston Kutcher, tetap bersyukur karena kita punya tubuh sehat dan lengkap, bersyukur karena masi punya keluarga yg sayang sama kita. Bukannya gue ngajarin buat bersyukur di atas penderitaan orang yg ga punya ortu ato yg cacat. BIG NO. Tapi coba dipikirin smua yg kita punya, yg uda dikasi buat kita, apapun itu kita tetep slalu bisa bersyukur. Bisa sekolah, bisa bernafas, bisa bergerak, bisa ini dan bisa itu. It's a blessing.



Jangan ngeluh atas kekurangan kita, tapi bersyukur atas apa yg kita punya. Hari ini juga di communication class tadi gue diingetin lagi soal bersyukur dari artikel yg gue post sblm ini. Apapun keadaan kita, pasti ada rencana dibaliknya dan tetep kita bisa bersyukur =)

Yang lainnya lagi, Tuhan itu seneng banget sewaktu kita bersyukur. Jangankan Tuhan, kita manusia, seandainya kita kasi barang sama seseorang, let's say baju, dan orang yg kita kasi senengnya minta ampun sampe yang "makasii bangett yaaaaaaaaaaaaaaaaa" trs bajunya lgsg dipake bsoknya, dan dia jaga dan jd salah satu baju favorit dia. Gue sebagai orang yang ngasi pasti bakal ikutan seneng, dan gue bakal kepikiran buat kasi dia lagi lain kali, karena dia menghargainya. Sama juga kaya Tuhan yah, ketika kita bersyukur sama semua yang uda Dia kasi buat kita, kita berterima kasih, Tuhan pasti bakal seneng, dan Dia bakalan mau terus kasih kita lagi dan lagi. Setiap kita pastinya mau terus donk diberkati??

Dan setelah kita terus2an diberkati, jangan lupa juga buat memberi! Hidup itu belum hidup kalo kita cuma mentingin diri sendiri ;) Ketika kita uda diberkati, selain bersyukur, jgn lupa buat memberkati orang lain juga. Semakin banyak kita memberi, semakin banyak doa yg kita terima loh. =)



Jadi intinya begitu huehuehue, ini semua yg gue tulis, gue boleh belajar dari orang lain juga, marilah kita bersyukur selalu, berterima kasih, dan setelah terima, kita kasih lagi ke orang ;)
God bless!

Cracked Pot Story

I have read this before, but today in communication skills Mrs. Ann showed us a video about this again, and I wanna share this =)
 
A water bearer in India had two large pots, each hung on each end of a pole, which he carried across his neck. One of the pots had a crack in it; and while the other pot was perfect and always delivered a full portion of water at the end of the long walk from the stream to the master's house, the cracked pot arrived only half full.

For two years this went on daily, with the bearer delivering only one and a half pots of water to his master's house. Of course, the perfect pot was proud of its accomplishments, perfect to the end for which it was made.

But the poor cracked pot was ashamed of its own imperfection, and miserable that it was able to accomplish only half of what it had been made to do.

After two years of what it perceived to be a bitter failure, it spoke to the water bearer one day by the stream. "I am ashamed of myself, and I want to apologize to you."
"Why?" asked the bearer. "What are you ashamed of?"

"I have been able, for these past two years, to deliver only half my load because this crack in my side causes water to leak out all the way back to your master's house. Because of my flaws, you have to do all of this work, and you don't get full value from your efforts," the pot said.

The water bearer felt sorry for the old cracked pot, and in his compassion he said, "As we return to the master's house, I want you to notice the beautiful flowers along the path."
 
Indeed, as they went up the hill, the old cracked pot took notice of the sun warming the beautiful wild flowers on the side of the path, and this cheered it some. But at the end of the trail, it still felt bad because it had leaked out half its load, and so again it apologized to the bearer for its failure.

The bearer said to the pot, "Did you notice that there were flowers only on your side of your path, but not on the other pot's side? That's because I have always known about your flaw, and I took advantage of it. I planted flower seeds on your side of the path, and every day while we walk back from the stream, you've watered them. For two years I have been able to pick these beautiful flowers to decorate my master's table. Without you being just the way you are, he would not have this beauty to grace his house."
Moral: Each of us has our own unique flaws. We're all cracked pots. But it's the cracks and flaws we each have that make our lives together so very interesting and rewarding. You've just got to take each person for what they are, and look for the good in them.